Liputan6.com, Jakarta – Jelang rilis data inflasi Agustus, Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi akan kembali terjadi deflasi pada bulan tersebut. Hal ini utamanya dipengaruhi harga pangan yang terkontraksi.

“Pada bulan Agustus diperkirakan tercatat deflasi 0,01 persen mtm (month to month), setelah bulan Juli tercatat deflasi 0,1 persen. Inflasi tahunan pada bulan Agustus diperkirakan tercatat 1,36 persen yoy (year on year) dari bulan sebelumnya 1,54 persen yoy,” ujar Josua saat dihubungi Liputan6.com, Selasa I1/9/2020).

Josua menjabarkan, penyebab utama deflasi di bulan Agustus adalah deflasi pada komponen harga bergejolak. Dimana harga pangan seperti beras terkontraksi 0,11 persen mtm, daging ayam -11,38 persen mtm, telur ayam -0,68 persen mtm, bawang merah -15,3 persen mtm, dan bawang putih -0,57 persen mtm.

“Ini didorong oleh supply yang tetap terjaga namun permintaan cenderung masih lemah,” kata dia.

Sementara inflasi inti pada bulan Agustus diperkirakan tercatat sekitar 2,15 persen yoy, dari bulan sebelumnya tercatat di 2,07 persen yoy. “Inflasi inti masih ditopang oleh kenaikan harga emas yang sepanjang bulan Agustus tercatat naik 8,2 persen mtm,” ujar dia.

Meskipun demikian, Josua menyebutkan faktor yang masih membatasi kenaikan inflasi inti adalah penurunan harga gula pasir sebesar -2,52 persen mtm.

“Secara umum, inflasi inti juga cenderung rendah mempertimbangkan daya beli yang belum membaik signifikan meskipun pemerintah sudah meluncurkan beberapa stimulus lanjutan pada akhir bulan Agustus,” beber JOsua.

Adapun stimulus yang dimaksud meliputi, pemberian gaji ke 13 bagi ASN, penyaluran subsidi gaji bagi pekerja dengan gaji kurang dari Rp 5 juta, serta pemberian banpres produktif bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

“Secara keseluruhan, dengan tekanan inflasi yang rendah tersebut mengindikasikan tingkat konsumsi masyarakat cenderung masih dalam tren menurun dari awal tahun hingga pertengahan kuartal III tahun 2020 ini,” kata dia.

“Namun demikian dengan peningkatan penyerapan belanja pemerintah termasuk anggaran PEN serta pemberian stimulus lanjutan untuk mengungkit daya beli masyarakat pada kuartal III tahun ini,” sambung Josua memungkasi.